Determinasi Daun Belimbing Wuluh

blimbing-wuluh-thumb3
Klasifikasi:Spermatophyta
Sub divisi:Angiospermae
Kelas:Dicotyledoneae
Bangsa:Geraniales
Suku:Oxalidaceae
Marga:Averrhoa
Jenis:Averrhoa bilimbi L.
Nama Umum:Belimbing Wuluh
Habitus:Pohon, tinggi 5 – 10 m
Batang:Tegak, bercabang-cabang, permukaan kasar, banyak tonjolan
Daun:Majemuk, menyirip, anak daun 25 – 45 helai, bulat tetur, ujung meruncing, pangkal membulat, panjang 7 – 10 cm, lebar 1 – 3 cm, bertangkai pendek, pertulangan menyirip, hijau muda, hijau.
Bunga:Majemuk, bentuk malai, pada tonjolan batang dan cabang, menggantung, panjang 5 – 20 cm, kelopak ± 6 mm, merah, daun mahkota bergandengan, bentuk lanset, ungu.
Buah:Buni, bulat, panjang 4 – 6 cm, hijau kekuningan
Biji:Lanset atau segi tiga, masih muda hijau setelah tua kuning kehijauan
Akar:Tunggang, coklat kehitaman

Kandungan Kimia

Ekstak daun belimbing wuluh mengandung fenol, flavonoid, tannin, sulfur, asam format, asam sitrat, kalium sitrat, saponin, kalsium oksalat. Flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun belimbing wuluh adalah luteolin dan apigenin (Zakaria dkk., 2007). Daun belimbing wuluh memiliki kandungan flavonoid, saponin, tanin, sulfur, asam format, peroksidase, kalsium oksalat, dan kalium sitrat (Faharani, 2008).

Ekologi dan Persebaran

Belimbing wuluh tumbuh di daerah dengan ketinggian hingga 500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat ditemui di tempat yang banyak terkena sinar matahari langsung tetapi cukup lembab.  Pengembangbiakan tanaman dapat dengan menyemai bijinya atau digunakan teknik pencangkokan. Pada umumnya belimbing wuluh ditanam dalam bentuk tanaman pekarangan yaitu diusahakan sebagai tanaman peneduh di halaman rumah. Pohonnya tergolong kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang tidak begitu besar, kasar berbenjol-benjol (Masripah, 2009).

Daun

Bentuk daunnya majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membulat, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebarnya 1-3 cm, berwarna hijau, permukaan bawah hijau muda (Dalimartha, 2008). Panjang ibu tangkai daun 2-8cm, setiap ibu tangkai daun 2-8 cm, setiap ibu tangkai terdiri atas 3-13 anak daun. Daun belimbing wuluh merupakan daun majemuk sepanjang 30 – 60 cm dengan 11 – 45 pasang anak daun. Anak daun memilki warna hijau, bertangkai pendek, berbentuk bulat hingga lonjong dengan ujung agak runcing, pangkal membulat. Bentuk daunnya majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membulat, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebarnya 1-3 cm, berwarna hijau, permukaan bawah hijau muda (Dalimartha, 2008).

Bunga

Bunganya kecil, berkelompok, keluar langsung pada batang dan cabang-cabangnya dengan tangkai bunga berambut, menggantung, panjang 5-20 cm, mahkota bunga biasanya berjumlah 5, panjang kelopak bunga 5-7 mm; helaian mahkota bunga berbentuk elips; panjang 13-20 mm, berwarna ungu gelap dan bagian pangkalnya ungu muda; benang sari semuanya subur (Mario, 2011). Perbungaan belimbing wuluh ini berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar, bunga kecil-kecil berbentuk bintang, warnanya ungu kemerahan.

Buah

Buah belimbing wuluh berbentuk elips dengan panjang 4-10 cm. Warna buah ketika muda hijau, dengan sisa kelopak bunga menempel diujungnya. Jika masak buahnya berwarna kuning pucat. Daging buahnya berair dan sangat asam. Kulit buah berkilap dan tipis. Bijinya kecil (6 mm) berbentuk pipih dan berwarna coklat, serta tertutup lendir (Mario, 2011).

Batang

Memiliki batang yang tidak begitu besar, mempunyai garis tengah sekitar 30 cm, dan tinggi mencapai 10 m. Belimbing wuluh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol dan memiliki percabangan sedikit. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Batang berbentuk tegak, permukaan kasar, banyak tonjolan, dan berwarna hijau kotor. Babitus berbentuk pohon setinggi 5-10 meter.

Determinasi tanaman dilakukan untuk menetapkan kebenaran sampel tanaman berkaitan dengan ciri-ciri mikroskopis, makroskopis, dan ciri-ciri morfologi yang ada pada tanaman. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan adalah Averrhoa bilimbi Ldengan nama lokal Belimbing Wuluh. Tujuan determinasi adalah untuk membuktikan kebenaran tanaman yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Dalimartha, S. (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid V. Jakarta: Permata Bunda. Hal. 7-9.

Faharani, G. Uji aktivitas antibakteri daun belimbing wuluh terhadap bakteri streptococcus aureus dan escherichia coli secara bioautografi. Jakarta: Fakultas Matematika dan IPA Universitas Indonesia; 2008.

Mario, P. (2011). Khasiat Dan Manfaat Belimbing Wuluh. Surabaya: Stomata. Hal. 65-68, 102-103.

Masripah. (2009). Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) Terhadap Kultur Aktif Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Zakaria, Z., Zaiton, H., Henie., E., & &Zainuddin, E. E. (2007). In Vitro Antibacterial Activity of Averrhoa bilimbi L., Leaves and Fruit ExtractsInt. Journal of Topical Medicine 2, 96-100.

Bagikan :